Kategori

Selasa, 25 Februari 2014

BAB 1 Konsep, Pendekatan, Prinsip, ddan Aspek Geografi

A. Konsep Geografi


1. Pengertian dan Batasan Geografi

Istilah geografi pertama sekali diperkenalkan oleh Eratosthenes
(276–104 SM) dalam bukunya Geographika. Geografi berasal dari bahasa
Yunani yang terdiri dari kata geo berarti ‘bumi’ dan graphein yang berarti
‘tulisan’. Jadi, geografi berarti ’tulisan tentang bumi’, sehingga geografi sering
disebut sebagai ilmu bumi. Padahal, geografi tidak hanya mempelajari tentang
permukaan bumi, tetapi juga mempelajari benda-benda di luar bumi dan di
ruang angkasa. Dengan demikian, pengertian geografi dapat didefinisikan
menjadi lebih luas yang dapat mengakumulasi semua hal di atas. Geografi
dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang bumi, penduduk,
flora, fauna, udara, iklim, dan segala yang berinteraksi dengannya.
Berbagai batasan tentang pengertian geografi telah dikemukakan oleh
beberapa ahli.

1. Menurut Ferdinan Von Richthofen geografi adalah ilmu yang mempelajari
tentang gejala dan sifat-sifat permukaan bumi dan penduduknya, serta
menerangkan hubungan sebab akibat ataupun terdapatnya gejala dan
sifat-sifat itu secara bersamaan.

2. Sidney E. Ekblaw dan D.J.D. Mulkurne mengartikan geografi sebagai ilmu
yang mempelajari tentang bumi dan kehidupannya yang memengaruhi
cara kita hidup, makanan yang kita makan, pakaian yang kita pakai,
rumah yang kita bangun, dan aktivitas rekreasi yang kita nikmati.
3. Menurut Halim Khan, geografi adalah lingkungan alam dan sosial
merupakan wilayah untuk melakukan kegiatan, mendeskripsikan,
menganalisis, dan menikmati tingkah laku manusia di bumi yang
bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya.

4. Bintarto berpendapat bahwa geografi dapat diartikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat bumi,
menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak
yang khas mengenai penghidupan dan berusaha mencari fungsi dari
unsur-unsur bumi dalam ruang dan waktu.

5. Menurut hasil seminar dan lokakarya geografi di Semarang tahun 1988,
geografi adalah pengetahuan mengenai persamaan dan perbedaan gejala
alam dan kehidupan di muka bumi (gejala geosfer) serta interaksi antara
manusia dan lingkungannya dalam konteks keruangan dan kewilayahan.
Dari pengertian-pengertian di atas, geografi dapat diartikan sebagai ilmu
yang mempelajari tentang gejala alam dan kehidupan di muka bumi serta interaksi
antara manusia dan lingkungannya dalam kaitannya dengan hubungan atau
susunan keruangan dan kewilayahan.

2. Ruang Lingkup dan Ilmu Pendukung Geografi



a. Ruang Lingkup Geografi

Ruang lingkup geografi sangat luas, meliputi kehidupan di muka bumi,
di ruang angkasa, berbagai gejala alam, serta interaksi antara manusia dan
lingkungannya dalam konteks keruangan dan kewilayahan. Pengetahuan
mengenai gejala alam dan kehidupan di muka bumi disebut dengan gejala
geosfer, dalam hal ini geografi akan mempelajari penyebab terjadinya dan
menjelaskan mengapa dan bagaimana terjadinya gejala geosfer.
Ruang lingkup geografi juga mencakup interaksi antara manusia dan
lingkungannya. Sebagai contoh manusia memanfaatkan lahan pertanian
untuk bercocok tanam sehingga dapat menghasilkan beras yang merupakan
sumber makanan pokok sebagian besar masyarakat. Ini berarti bahwa ada
interaksi antara manusia dan lingkungannya yang bertujuan memenuhi
kebutuhan hidupnya, baik itu kebutuhan pokok maupun kebutuhan
tambahan. Oleh karena itu, untuk mempertahankan agar sumber daya alam
tetap terjaga kita tidak boleh terlalu mengeksploitasi sumber daya alam
tersebut. Sangatlah bijak jika kita selalu menjaga dan memelihara alam
dengan sebaik-baiknya.
Secara garis besar ilmu geografi terbagi
menjadi dua bagian besar yaitu geografi fisik
dan geografi sosial. Gabungan antara
geografi fisik dan geografi sosial terjadi
geografi regional. Geografi fisik adalah
bagian ilmu geografi yang mempelajari
tentang semua peristiwa di muka bumi,
baik di darat, laut, udara, maupun luar
angkasa beserta faktor penyebab terjadi-
nya. Geografi sosial adalah bagian dari ilmu
geografi yang mempelajari tentang interaksi
antarmanusia, sedangkan geografi regional
adalah ilmu yang mempelajari tentang
perwilayahan dari negara-negara yang
ada.

b. Ilmu Pendukung Geografi
Geografi mempunyai kajian ilmu yang sangat luas sehingga ilmu
geografi memerlukan ilmu pendukung yang erat kaitannya dengan geografi.
Kajian geografi mempelajari bumi secara fisik, gejala sosial, teritorial, dan
interaksi antarmanusia. Hal ini menjadi ciri geografi yang spesifik dan
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu pendukung geografi juga
disebut sebagai cabang-cabang ilmu geografi. Ilmu pendukung tersebut,
antara lain, sebagai berikut.
1) Geologi, ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan, asal kejadian,
struktur, komposisi, dan sejarahnya (termasuk perkembangan
kehidupan) dan proses alamiah perkembangannya.
2) Geomorfologi, studi tentang bentuk-bentuk permukaan bumi dan segala
proses yang menghasilkan bentuk-bentuk tersebut.
3) Geofisika, ilmu yang mengkaji sifat-sifat fisik bumi bagian dalam dengan
metode teknik fisika, seperti mengukur gejala-gejala magnetik dan gaya
berat.
4) Meteorologi, ilmu yang mempelajari atmosfer, udara, cuaca, suhu, angin,
dan curah hujan.
5) Hidrologi, ilmu yang mempelajari air di permukaan dan di bawah
permukaan (air tanah), dan air di udara.
6) Oseanografi, ilmu yang mempelajari tentang perairan laut dan isinya,
antara lain, sifat-sifat air laut, terjadinya pasang surut, kedalaman, arus,
geologi dasar laut, tumbuhan, binatang, serta hubungan antara laut
dan atmosfer.
7) Demografi, ilmu yang mempelajari tentang cara mengumpulkan,
menyelidiki catatan-catatan dan statistik penduduk untuk mengetahui
perkembangan, kepadatan, kelahiran, kematian, migrasi, dan
persebaran penduduk.
8) Astronomi, ilmu yang mempelajari tentang benda-benda langit di luar
atmosfer bumi, seperti matahari, bulan, bintang, dan ruang angkasa,
baik sifat-sifat fisik, kimia, maupun gerakan sampai pada proses
kejadian benda langit.
9) Klimatologi, studi tentang kondisi rata-rata cuaca dan membahas
berbagai iklim di seluruh dunia.
10) Meteorologi, ilmu yang mempelajari tentang cuaca.
11) Pedologi, ilmu yang mempelajari tentang tanah, jenis, struktur, dan
unsur-unsur tanah.
12) Biogeografi, ilmu ini terdiri dari geografi tumbuhan dan geografi hewan.
a. Geografi Tumbuhan (fitologi), ilmu yang mempelajari persebaran
tumbuhan di muka bumi dan kesesuaian tumbuhnya dengan kondisi
iklim di bumi.
b. Geografi Hewan (zoologi), ilmu yang mempelajari tentang binatang,
baik tempat mereka hidup, berkembang, maupun persebarannya.
13) Etnografi, cabang geografi yang mempelajari jenis ras penyebaran
bangsa-bangsa dilihat dari sudut geografis.
14) Kartografi, ilmu tentang peta, baik teknis pembuatan, jenis, maupun
pemanfaatannya

B. Pendekatan Geografi

1. Pendekatan Geografi

Pendekatan dan metode dalam kajian geografi sejak awal pertumbuhan
pada masa Yunani hingga saat ini selalu mengalami perubahan. Kajian
geografi telah dilakukan orang dengan bentuk pendekatan yang tidak selalu
sama dari waktu ke waktu. Pandangan filsafat turut berpengaruh,
perubahan paradigma yang dianut menjadi penentu cara kerja atau metode
serta sasaran menjadi perhatian utama geografi, berkaitan erat dengan
perdebatan sejumlah tokoh dalam mempelajari geografi.
Menurut Pattison pendekatan geografi digolongkan pada empat hal berikut.

1. Tradisi keruangan; pusat perdebatan pada persoalan geometri,
hubungan keruangan dan juga perpindahan keruangan. Hal ini
memfokuskan sifat keruangan melekat pada setiap fenomena yang ada di muka bumi. Masalah keruangan pada kehidupan modern lebih
kompleks dan perlu pendekatan ”special organization”. Nilai terapan
geografi akan lebih banyak dipakai dalam kegiatan perencanaan analisis
masalah keruangan dan pemanfaatannya.

2. Tradisi studi wilayah; yang perhatiannya terpusat pada bagian
karakteristik esensial tempat-tempat atau kawasan fakta. Secara
kartografi dari satu tempat ke tempat lain.
 
3. Tradisi hubungan manusia dan alam; perhatiannya terpusat pada interaksi
manusia dengan lingkungannya. Hubungan udara, air, kondisi alam,
dan tempat-tempat pengaruhnya terhadap kesehatan manusia.
 
4 Tradisi ilmu kebumian; perhatiannya terpusat pada upaya mendeskripsi-
kan ciri-ciri permukaan bumi, aspek keadaan alamnya, gejala-gejala,
sifat, dan proses alam di bumi. Hal ini menghasilkan geografi fisis, dan
melihat kenyataan terjadi cabang pengkhususan geografi yang banyak
menjadi menyempit. Contoh: ilmu kebumian menjadi geologi, oseanologi,
meteorologi, dan astronom.

2. Objek Studi Geografi


Objek geografi antara lain sebagai berikut:
 
a. atmosfer (udara yang menyelimuti bumi), litosfer (kulit bumi), pedosfer
(lapisan tanah di permukaan bumi), dan hidrosfer (air di permukaan bumi); b. biosfer (kehidupan flora dan fauna di muka bumi) dan antroposfer
(manusia di bumi);
c. perkiraan bentang lahan dan bentang sosial dan budaya baik di
perkotaan maupun perdesaan;
d. keberagaman hubungan manusia dengan lingkungannya sebagai akibat
budaya dan teknologi;
e. hubungan manusia dengan segala proses yang ada di muka bumi yang
merupakan pendekatan ekologi.

3. Fungsi Pelajaran Geografi

Fungsi pelajaran geografi adalah:
a. sebagai alat analisis keruangan dengan proses-proses yang saling
terkait, misalnya, keterkaitan antaraspek fisik, sebagai contoh keterkaitan
lereng dan erosi, keterkaitan aspek fisik dan sosial ekonomi;
b. sebagai alat analisis kelingkungan yang berfungsi menganalisis
hubungan antara manusia dan lingkungan tempat tinggalnya, misalkan
hubungan antara laut dan tambak dengan nelayan atau hubungan
antara petani vanili dan dataran tinggi;
c. sebagai alat analisis kewilayahan sehingga dapat memberikan ciri yang
khas pada satu wilayah, yang dapat membedakan antara wilayah yang
satu dengan wilayah yang lainnya

4. Tujuan Pembelajaran Geografi


Adapun tujuan pembelajaran geografi yang menjadi dasar pembelajaran
geografi ada tiga macam, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Sebagai pengetahuan, geografi bertujuan mengembangkan konsep dasar
geografi yang berkaitan dengan pola keruangan dan prosesnya;
mengembangkan pengetahuan, peluang dan keterbatasan sumber daya alam
untuk dimanfaatkan; mengembangkan konsep dasar geografi yang terkait
dengan lingkungan sekitar dan wilayah negara atau dunia.
Sebagai keterampilan, geografi bertujuan mengembangkan keterampilan
mengamati lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan binaan;
mengembangkan keterampilan mengumpulkan, mencatat data dan informasi
yang berkaitan dengan aspek keruangan; mengembangkan keterampilan analisis,
sintesis, kecenderungan, dan hasil-hasil dari interaksi berbagai gejala geografis.
Sebagai sikap, geografi bertujuan menumbuhkan kesadaran terhadap
perubahan fenomena geografi yang terjadi di lingkungan sekitar;
mengembangkan sikap melindungi dan tanggung jawab terhadap kualitas
lingkungan hidup; mengembangkan kepekaan terhadap permasalahan dalam
pemanfaatan sumber daya; mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan
sosial dan budaya; mewujudkan rasa cinta tanah air dan persatuan bangsa.


C. Prinsip-Prinsip Geografi



1. Gejala Geografi dalam Kehidupan Sehari-hari


Gejala geografi adalah keterkaitan peristiwa yang satu dengan peristiwa
yang lain. Gejala geografi memengaruhi kehidupan manusia.Timbulnya
gejala-gejala geografi ini tidak dapat kita atur sehingga gejala ini tidak dapat
diminta ataupun ditolak manusia. Dapat dikatakan bahwa gejala-gejala
geografi atau gejala alam mendukung dan sekaligus membatasi aktivitas
manusia. Pada batas-batas tertentu, manusia harus menyesuaikan diri
dengan alam.

Gejala-gejala geografis yang terjadi di atmosfer antara lain angin, awan,
petir, dan hujan. Gejala geografis yang terjadi di litosfer antara lain gempa
bumi, gunung berapi, patahan, dan lipatan. Gejala geografi yang terjadi di
pedosfer antara lain pembentukan tanah, erosi, dan sedimentasi. Gejala
geografis yang terjadi di hidrosfer antara lain banjir dan tsunami. Gejala
geografis yang terjadi di biosfer antara lain migrasi penduduk dan
penyebaran hama tikus. Keseluruhan gejala geografis baik yang terjadi di
atmosfer, litosfer, pedosfer, hidrosfer, dan biosfer saling berhubungan dan
memengaruhi antara satu dengan yang lain.
Beberapa gejala geografi yang memengaruhi kehidupan manusia,
antara lain, gejala yang bersifat sosial-geografi, misalnya, transmigrasi yang
disebabkan kepadatan topografi dan kesejahteraan di daerah asal yang
disebabkan kepadatan topografi dan kesejahteraan di daerah asal yang
kurang mendukung sehingga diberi lokasi permukiman yang dapat
meningkatkan kesejahteraan para transmigran. Gejala yang bersifat sosial-
ekonomi geografi, misalnya, munculnya industri di daerah agraris yang
menimbulkan perubahan status sosial; contoh, daerah Karawang-Bekasi
dahulu adalah daerah pertanian yang subur, sekarang berubah menjadi
daerah industri dan permukiman penduduk. Gejala yang bersifat fisiografis,
misalnya, perubahan bentang lahan yang berpengaruh pada keadaan
ekonomi seseorang. Gejala yang bersifat klimatologis, misalnya, perubahan
iklim berpengaruh pada kegiatan ekonomi. Gejala yang bersifat sosiologis-
ekonomis, misalnya, perbedaan status sosial dalam masyarakat me-
mengaruhi perilaku konsumtif dan ekonomi masyarakat. Hal tersebut
memberikan gambaran bahwa masing-masing gejala geografi itu
mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap kehidupan manusia.


2. Prinsip-Prinsip Geografi dan Unsur Pokok Geografi
 

Jika kita amati dan kita analisis gejala geografi dalam kehidupan sehari-
hari, ahli geografi harus selalu berpegang pada empat prinsip berikut.
a. Prinsip persebaran, yaitu suatu gejala yang tersebar tidak merata di
permukaan bumi yang meliputi bentang alam, tumbuhan, hewan, dan
manusia.
b. Prinsip interelasi, yaitu suatu hubungan saling terkait dalam ruang,
antara gejala satu dengan yang lain.
c. Prinsip deskripsi, yaitu penjelasan lebih jauh mengenai gejala-gejala yang
diselidiki atau dipelajari. Deskripsi selain disajikan dengan tulisan atau
kata-kata, dapat juga dilengkapi dengan diagram, grafik, tabel, gambar,
dan peta.
d. Prinsip korologi, yaitu suatu gejala, fakta, ataupun masalah geografi di
suatu tempat yang ditinjau sebarannya, interelasinya, dan integrasinya
dalam ruang tertentu, sebab ruang itu akan memberikan karakteristik
kepada kesatuan gejala tersebut.


Dalam geografi terdapat dua unsur pokok, yaitu keadaan alam dan
keadaan manusia. Keadaan alam meliputi kekuatan alam, proses-proses yang
terjadi serta unsur-unsur fisik, topologi, dan biotik. Keadaan manusia
meliputi lingkungan sosial, bentang alam, budi daya, dan masyarakat.
Keadaan alam tidak sedinamis keadaan manusia karena perubahannya yang
lambat. Dengan kreativitas dan dorongan untuk lebih maju menjadikan
keadaan manusia mengalami perubahan yang lebih cepat jika dibandingkan
dengan keadaan alam.
Unsur-unsur fisik meliputi iklim, cuaca, keadaan air, relief, tanah, serta
keadaan hasil tambang dan mineral. Pengaruh topografi, antara lain, letak,
luas, bentuk, dan batas suatu wilayah. Pengaruh letak dapat dibedakan
menjadi letak astronomis, letak geologis, letak geomorfologis, letak geografis,
letak maritim, letak ekonomis, dan letak sosiokultural.
Letak astronomis adalah letak yang dihubungkan oleh garis lintang dan
garis bujur sehingga membentuk titik koordinat. Garis lintang adalah garis
paralel pola bumi yang sejajar dengan ekuator/khatulistiwa, yang terdiri
dari garis lintang utara (LU) dan garis lintang selatan (LS). Jarak antarlintang
diukur dengan derajat (°). Garis bujur adalah garis yang menghubungkan
kutub selatan dan kutub utara dan tegak lurus dengan garis lintang. Meridian
Greenwich adalah meridian nol atau meridian pangkal atau garis bujur 0°
yang disepakati dalam Kongres Meridian Internasional di Washington tahun
1884.
Secara astronomis, dilihat dari letak garis lintangnya, Indonesia terletak
di antara 6° LU–11° LS, berarti sebagian besar wilayah Indonesia terletak di
belahan bumi selatan dengan batas paling utara 6° LU dan batas paling
selatan 11° LS, serta jarak lintang 17°. Jika dilihat dari letak garis bujur
Indonesia terletak di belahan bumi timur (diukur dari garis bujur 0°) dengan
batas paling barat 95° BT dan batas paling timur 141° BT serta jarak bujur 46°.
Perbedaan garis bujur dapat menyebabkan perbedaan waktu. Di
wilayah Indonesia waktu terbagi menjadi tiga daerah waktu yaitu:
a. Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), berdasar meridian pangkal 105°
BT yang mencakup seluruh wilayah Pulau Jawa, Pulau Sumatra,
Provinsi Kalimantan Tengah, dan Provinsi Kalimantan Barat dengan
selisih waktu 7 jam lebih awal daripada waktu Greenwich.
b. Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA), berdasar meridian pangkal 120°
BT, yang mencakup wilayah Pulau Bali, NTB, NTT, Provinsi Kalimantan
Timur, Provinsi Kalimantan Selatan, dan seluruh provinsi di Sulawesi,
dengan selisih waktu 8 jam lebih awal daripada waktu Greenwich.
c. Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT), berdasar meridian pangkal 135°
BT yang mencakup seluruh wilayah Provinsi Papua, Maluku, dan
Maluku Utara, dengan selisih waktu 9 jam lebih awal daripada waktu
Greenwich.


 Keliling bumi kita adalah 360°, sedangkan jumlah pembagian waktu
dunia 24 jam dalam 1 hari. Hasil pembagian keliling bumi dengan pembagian
waktu dunia adalah 15°, sehingga setiap perputaran bumi 15° terjadi
perbedaan waktu 1 jam.




 Letak geologis adalah
letak suatu negara atau
daerah berdasarkan struktur
batuan yang ada di muka
bumi. Letak geologis Indo-
nesia dilalui oleh dua jalur
pegunungan muda, yaitu
Sirkum Pasifik dan Sirkum
Mediterania (Sirkum Alpen
Banda). Pengaruh pertemu-
an dua sirkum di wilayah
Indonesia memiliki banyak
gunung api (vulkanik) yang
membawa kesuburan tanah,
tetapi menyebabkan wilayah kita rawan gempa bumi.


Letak geomorfologis adalah letak yang berdasarkan pada morfologi dari
suatu tempat di permukaan bumi. Letak geomorfologis Indonesia sangat
dipengaruhi oleh proses geologis yang terjadi. Bervariasinya bentuk lahan
(landform) di Indonesia menimbulkan terjadinya perbedaan letak
geomorfologis.
Hal itu menyebabkan:
a. perbedaan mineral dan bahan tambang daerah yang satu dengan
daerah yang lain;
b. perbedaan jenis-jenis tanaman yang disebabkan oleh perbedaan suhu
daerah yang satu dengan yang lainnya;
c. perbedaan kepadatan dan persebaran penduduk karena perbedaan
topografinya


  Letak geografis adalah letak berdasarkan kenyataan posisi suatu daerah
di bola bumi dibandingkan dengan posisi daerah lain. Secara geografis
Indonesia terletak di antara 6° LU–11° LS dan 95° BT–141° BT, antara Samudra
Pasifik dan Samudra Hindia, antara Benua Asia dan Benua Australia.


Letak maritim merupakan letak suatu daerah ditinjau dari sudut
kelautan. Letak maritim Indonesia yang berbentuk kepulauan dikelilingi oleh
tiga lautan besar yaitu Samudra Pasifik di sebelah timur, Samudra Hindia
di sebelah selatan, dan Laut Cina Selatan di sebelah utara.


Letak ekonomis adalah letak suatu wilayah atau negara dilihat dari jalur
dan kehidupan ekonomi suatu negara terhadap negara lain. Letak ekonomis
Indonesia berada di persimpangan jalur perdagangan karena Indonesia
terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia. Selain itu, Indonesia
juga berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang selalu membutuhkan
suplai hasil pertanian dari Indonesia yang merupakan negara agraris yang
kaya akan hasil pertaniannya.
Letak sosiokultural adalah letak suatu negara berdasarkan keadaan sosial
dan budaya daerah tersebut terhadap budaya daerah yang berdekatan.
Indonesia dan negara-negara tetangga di Asia Tenggara memiliki banyak
kesamaan sosial dan budaya, sehingga dari segi ini dapat dibentuk berbagai
kerja sama antarnegara ASEAN.
Luas wilayah negara Indonesia adalah 9,8 juta km 2 yang terdiri dari
lautan dan daratan yang berupa pulau kecil dan pulau besar, sehingga
dikatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan
terbesar di dunia. 7,9 juta km 2 atau 81% wilayah Indonesia terdiri dari
lautan, sedangkan daratannya ±1,9 juta km 2 atau 19%. Wilayah Indonesia
terdiri dari 18.110 pulau, 6.004 pulau telah memiliki nama, dan yang
berpenghuni sebanyak 931 pulau. Semakin luas suatu wilayah semakin besar
kesempatannya untuk memperoleh keuntungan dengan keleluasaan ruang
dan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya.

D. Aspek Geografi

Geografi merupakan ilmu yang bermanfaat sepanjang hayat dan
berguna bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Bidang kajian aspek
geografi meliputi hubungan kausal dan spasial kehidupan manusia di
lingkungan yang terintegrasi baik secara fisik, sosial, maupun budaya.
Analisis keruangan bagi seorang ahli geografi merupakan hal pokok
yang harus dipahami karena mengkaji berbagai aspek, baik secara fisik,
sosial, lokasi, maupun aktivitas manusia. Variabel ini berbeda dari suatu
tempat dengan tempat yang lainnya. Faktor yang memengaruhi pola
distribusi keruangan atau persebaran unsur, biasanya terkait dengan banyak
faktor. Contoh keterkaitan antara lereng dengan erosi, jenis tanah dan
vegetasi. Aspek fisik dengan aspek sosial, misalnya, antara bentuk lahan
dengan permukiman atau bentuk lahan dengan transportasi. Contoh lain
adalah keterkaitan antara sesama aspek sosial, misalnya, jarak rumah dari
jalan dengan kepadatan rumah atau dengan nilai tanah.
 

1. Aspek Lokasi
 
Konsep lokasi merupakan jawaban dari pertanyaan “di mana” (where).
Aspek lokasi dibedakan atas lokasi absolut dan lokasi relatif.
a.   Lokasi absolut menunjukkan letak suatu titik secara tetap terhadap sistem
grid (jaring) atau sistem koordinat. Untuk letak suatu titik secara absolut
di permukaan bumi ditentukan oleh garis bujur (meridian) dan garis
lintang (paralel). Lokasi absolut disebut juga letak astronomis. Letak
absolut suatu titik bersifat tetap, walaupun kondisi dan situasi sekitar
titik tersebut mengalami perubahan karena faktor politik.
b.   Lokasi relatif. Lokasi ini dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan
situasi sekitar lokasi tersebut. Contoh: hulu Sungai Kapuas, mungkin
tidak terlalu penting bagi sebagian besar orang. Akan tetapi, pada saat
ditemukan emas atau minyak bumi, lokasi tersebut akan menjadi sangat
penting dan bernilai ekonomi tinggi.
Lokasi relatif berkaitan dengan kondisi dan situasi sekitarnya dapat
memberikan keuntungan, tetapi juga dapat memberikan kerugian. Lokasi tanah
yang berada di jalur ekonomi, harganya dapat sangat mahal. Namun, juga
menjadi lokasi yang kurang diminati untuk tempat tinggal bagi golongan
tertentu. Hal ini karena faktor kebisingan dan polusi yang dihasilkan kendaraan
bermotor. Lokasi atau letak relatif sering juga disebut letak geografis.
 

2. Aspek Jarak
 

Aspek jarak memiliki peran yang penting dalam kehidupan sosial,
ekonomi, dan pertahanan. Jarak merupakan faktor pembatas yang bersifat
alami. Konsep jarak bersifat relatif karena adanya kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan transportasi. Jarak dapat dinyatakan dengan arak lurus antara dua titik pada peta dengan mencermati skala peta, jarak
tempuh (dikaitkan dengan waktu perjalanan yang dibutuhkan atau dengan
sistem satuan, biaya angkutan).
Jarak antara dua kota yang awalnya ditempuh dalam beberapa hari
dengan berjalan kaki, hanya ditempuh dalam beberapa jam dengan pesawat
udara. Aspek jarak menjadi faktor pembatas antara dua titik, sejalan dengan
kemajuan teknologi sarana angkutan dan teknologi komunikasi. Dengan
kemajuan teknologi komunikasi, siaran langsung pertandingan sepak bola
dapat dipertontonkan ke seluruh dunia berupa siaran langsung. Dengan
kemajuan teknologi komunikasi juga, kita dapat berkomunikasi dengan mitra
kerja atau keluarga yang tinggal di belahan bumi yang lain.
Sektor perekonomian dipengaruhi konsep jarak, karena semakin jauh
jarak suatu tempat, biaya angkutan yang harus dikeluarkan semakin besar
dan harga menjadi lebih mahal. Nilai sewa tanah akan semakin rendah jika
jaraknya jauh dari pusat kegiatan, demikian juga sebaliknya.
 

3. Aspek Aksesibilitas
 

Aksesibilitas (keterjangkauan) tidak selalu berkaitan dengan faktor jarak.
Konsep ini lebih berkaitan dengan kemudahan untuk menjangkau suatu
lokasi. Wilayah dengan tingkat askesibilitas tinggi atau mudah dijangkau,
cenderung lebih cepat berkembang. Namun, jika kondisi topografi
bergunung-gunung, rawan bencana, jauh di pedalaman, dan sulit sarana,
tentu sukar untuk dijangkau.
Keterjangkauan umumnya berubah sejalan dengan perkembangan
perekonomian dan kemajuan teknologi, sebaliknya tempat-tempat yang
keterjangkauannya sangat rendah, akan sukar mencapai kemajuan dan
mengembangkan perekonomiannya. Keterjangkauan di Pulau Jawa berbeda
dengan Pulau Kalimantan dan Papua karena kondisi reliefnya


4. Aspek Aglomerasi

Penduduk mempunyai suatu gejala kecenderungan mengelompok pada
suatu tempat tertentu yang dianggap paling menguntungkan. Masyarakat
petani cenderung untuk mengelompok di wilayah dataran yang subur,
sehingga membentuk permukiman. Masyarakat kota cenderung untuk hidup
mengelompok dengan masyarakat yang memiliki strata sederajat.
Akibatnya, akan muncul permukiman elite dan permukiman kumuh.
Aglomerasi (pemusatan) penduduk akan memudahkan penyediaan
sarana pendidikan (sekolah), sarana kesehatan (puskesmas, rumah sakit),
atau sarana ekonomi (pasar, pertokoan). Dengan adanya aglomerasi akan
menimbulkan efisiensi yang tinggi dalam pemasaran atau pelayanan umum.
Salah satu keuntungan yang didapat dengan adanya aglomerasi
penduduk yang padat ialah dimungkinkannya sistem ekonomi aglomerasi
yang memanfaatkan jumlah penduduk yang besar sebagai daerah pemasaran atau pelayanan. Akan tetapi, hanya meliputi wilayah yang
sempit. Ini berarti memungkinkan efisiensi yang tinggi dalam produksi
pengangkutan barang maupun pemasangan atau pengadaan sarana-sarana
untuk pelayanan umum.
 

5. Aspek Fisik
 

Bentuk muka bumi beragam menunjukkan aspek fisik yang
memengaruhi kehidupan penduduk baik bentuk permukiman, mata
pencaharian, dan sebagainya. Muka bumi yang memiliki kemiringan lereng
lebih dari 40%, rawan terhadap proses pengikisan. Adapun muka bumi
yang memiliki lereng dengan kemiringan kurang dari 2%, rawan terhadap
proses erosi berpengaruh pada pengendapan dan sedimentasi di daerah
lainnya.
Suatu daerah yang mengalami proses pengangkatan akan menjadi
lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Sebaliknya, daerah yang mengalami
proses penurunan, akan menjadi daerah yang lebih rendah daripada daerah
sekitarnya.
Aspek fisik juga memengaruhi pada banyak tidaknya penduduk tinggal
di daerah tersebut. Daerah yang subur tentu diminati banyak orang, tetapi
daerah gurun pasir kurang diminati karena sulitnya sumber air ditemukan
di daerah tersebut.